Sabtu, 06 Februari 2010

Asseb-Khotbah Markus 10:35-45, Minggu 07 Februari 2010

THEMA:
PEMIMPIN DARI PERSFEKTIF KRISTEN ADALAH MELAYANI
(Peminpin eme kap si ngelai)
Introitus: Matius 22:14; Pembacan:1 Samuel 8:1-9
Khotbah: Markus 10:35-45
Pendahuluan
Setiap orang kristen seharusnya mengikuti teladan Yesus. Itulah indekator sebagai pengikut Yesus. Demikian juga berbicara mengenai kepemimpinan, maka setiap pemimpin kristen baik di kantor, organiasi, rumah, di gereja harus menerapkan pola kepemimpinan Yesus yakni melayani dan bukan dilayani[1].

Persoalannya ialah, sudahkah setiap pemimpin kristen menerapkan pola kepemimpinan Yesus? Saya teringat dengan Drs.HFB Surbakti (alm), anggota jemaat GBKP Surabaya. Beliau pernah menjadi direktur PTP-21/22 di Jawa Timur. Orangnya tidak banyak bicara namun ia adalah sosok yang menjadi teladan bagi jemaat GBKP Surabaya. Dalam berjemaat, walaupun tidak pernah menjadi Pertua/Diaken namun beliau taat beribadah dan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan gereja, bahkan dalam sejarah 28 tahun GBKP Surabaya disebutkan bahwa beliau adalah salah satu yang berjasa dalam pendirian GBKP Surabaya. Dalam karir beliau juga seorang yang berhasil. Dan rahasia keberhasilan beliau dalam karir/pekerjaan yang sering disaksikannya ialah tidak lain karena beliau menerapkan kepemimpinan pelayan yang terinpirasi dari Markus 10:43-45, bagian dari nas renungan kita minggu ini[2].

Pendalaman Nas
Perikop kita (Markus 10:35-45) ada dibawah judul “Permintaan Yohanes dan Yakobus”. Perikop ini terdapat juga dalam Matius 20:20-28. Berbeda dengan Matius, Markus menyebutkan bahwa Yohanes dan Yakobuslah yang meminta kepada Yesus (bukan ibunya sebagaimana di sebutkan dalam Matius[3]) agar diperkenankan duduk dalam Kerajaan Yesus kelak satu disebelah kanan dan satunya disebelah kiri. Mengapa ada perbedan? Menurut William Barclay[4], ini menyangkut diri sipengarang yakni Matius dan Markus. Matius merasa permintaan seperti itu tidak pantas oleh seorang rasul, namun tidak demikian dengan Markus. Markus dengan kesederhanaannya mengatakan apa adanya. Dan melalui kenyataan ini, Markus seolah mau mengatakan bahwa ke 12 murid juga adalah manusia biasa dan yang bisa salah. Dan Tuhan Yesus tidak membuang atau menolak mereka tetapi terus membimbing dan memperlengkapi mereka untuk bersama-sama berkarya mengubah dunia dan Ia berhasil.

Hal itulah yang kita baca dalam perikop kita. Menghadapi murid yang demikian, Yesus tidak serta merta menyalahkan atau memandang rendah. Kalau kita perhatikan dialog Yesus dengan Yohanes dan Yakobus dalam ayat 35-40 terlihat bagaimana cara Yesus mengarahkan muridNya ini untuk tiba pada pemahaman yang benar. Yesus tidak mengtakan: bodoh kepada Yohanes dan Yakobus, tapi dengan sikap seorang guru Yesus mengatakan: “kamu tidak tahu apa yang kamu minta”. Lau Yesus menjelaskan mengenai dua hal. Yang pertama, Kerajaan Yesus bukan di dunia ini dan seperti kerajaan dunia ini. Ungkapan meminum cawan[5] dan dibaptis[6] mau mengingatkan Yohanes dan Yakobus apa yang akan terjadi bagi Yesus. Bahwa Yesus akan mengalami hal yang mengerikan yakni kebencian, derita dan kematian di Kayu salib, namun pada hari ke tiga ia bangkit[7]. Melalui penjelasan ini Yesus mau mengatakan untuk dapat memerintah dalam kerajaanNya kelak ukurannya dan caranya berbeda dengan Kerajaan di dunia ini[8]. Ujiannya ialah mau meminum cawan yang diminum Yesus dan dibaptis dengan baptisan yang diterima Yesus atau tidak. Dengan kata lain mau atau tidak mengalami semua kebencian, derita dan bahkan kematian seperti yang dialami Yesus. Yang ke dua, walaupun mau, sebagaimana Yohanes dan Yakobus menjawab mau (dapat) dalam ayat 39, namun untuk duduk disebelah kanan dan sebelah kiri, Yesus mengatakan bahwa itu hak Bapa saja yang memberikannya. Artinya mereka mungkin dapat menerimanya, tetapi jika mereka layak, bukan karena kesukaan.

Dalam ayat 41 disebutkan: “Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes”. Tidak disebutkan alasan mereka marah. Namun dapat diduga mereka marah karena dianggap ibarat kampanye Yohanes dan Yakobus “mencuri start” untuk mendapatakan legitimasi dari Yesus menegenai persoalan yang sudah mereka perdebatkan sebelumnya yakni mengenai siapa yang paling besar diantara mereka[9]. Mungkin yang lain marah karena dengan tindakan Yohanes dan Yakubus dianggap akan semakin memecahbelah persekutuan ke 12 murid. Apapun alasannya keadaan ini sesuatu yang serius. Yesus tidak menginginkan perpecahan terjadi di dalam persekutuan murid-murid. Oleh karena itu Yesus memanggil mereka dan menjelaskan mengenai perbedaan standar “kebesaran” duniawi dan kebesaran rohani (Kebesaran dalam Kerajaan dunia dan kebesaran dalam Kerajaan Allah). Dalam hal ini Yesus mengambil contoh perbandingan praktek pemerintah di dunia ini yang sudah diketahui para murid, dimana mereka (rajanya atau pemimpinnya) memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka (menindas mereka). Jadi standarnya adalah kuasa, serta seberapa besar kehendaknya dapat dikenakan kepada berapa banyak orang. Tapi dalam Kerajaan Yesus (kepemimpinan rohani) tidak demikian. Stadarnya adalah pelayanan dan kerendahan hati. Jadi berbeda dengan “kebesaran duniawi”, “kebesaran rohani” diwujudkan bukan dengan mengecilkan orang lain demi melayani kita, melainkan menegecilkan diri kita sendiri demi melayani orang lain. Pembuktiannya bukanlah pelayanan apa yang dapat aku peroleh, melainkan pelayanan apa yang dapat aku berikan. Dan inilah yang telah dipraktekkan oleh Yesus sendiri. Dalam ayat 45 Yesus mengatakan bahwa Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Pointer Aplikasi
(1) Hal yang menarik bahwa Kepemimpinan yang melayani juga telah menjadi pemahaman penting dalam praktek kepemimpinan secara umum. Ketika memberi sambutan dalam acara pemberian Penghargaan Citra Pelayanan Prima2008 yang diberikan kepada 80 unit pelayanan publik terbaik di Istana Negara pada tanggal 31 Oktober 2008, Presiden SBY menegaskan bahwa setiap pemimpin hendaknya memberi pelayanan yang terbaik bagi warganya. Bukan sebaliknya, malah minta dilayani[10]. Sangat jelas apa yang dimanta presiden SBY. Bahwa pemimpin itu harus melayani dalam arti melakukan tugas dan tanggungjawabnya sebaik mungkin bagi kepentingan masyarakat. Namun sudahkah demikian pemimpin-pemimpin kita? Dan bagaimana pemimpin-pemimpin yang mengaku atau paling tidak menganggap dirinya sebagai pemimpin kristen, sudahkah menerapkan kepemimpinan yang melayani sebagaimana mengacu kepada kepemimpinan Yesus? Ini adalah suatu tantangan bagi kesaksian setiap pemimpin kristen.
(2) Pemimpin yang melayani berarti kepemimpinan yang menghambakan diri. Identitas pemimpin Kristen adalah sebagai “hamba. Kata “hamba” berasal dari kata servant/slave atau doulos (Yunani), ebed (Ibrani) berarti seorang yang sedang dalam status sebagai pelayan atau budak. Tugasnya adalah mengerjakan pekerjaan menurut kehendak tuannya, tidak ada bantah-bantahan. Suatu sikap penyerahan segala "hak pribadi" secara utuh untuk diatur oleh majikannya. Berarti ia sedang menyangkal dirinya atau tidak berhak lagi atas hak pribadinya. Hak itu sudah melebur/menyatu dengan hak tuannya. Dan Yesus sendiri telah menerapkan kepemimpinan demikian dalam hidupnya (Mrk. 10:45).
(3) Pemimpin yang melayani berarti kepemimpinan yang mendasarkan otoritasnya pada pengorbanan. Yesus mengajarkan bahwa ciri khas dan kebesaran pemimpin spiritual terletak bukan pada posisi dan kuasanya, melainkan pada pengorbanannya. Hanya melalui melayani, seseorang menjadi besar (Mrk. 10:43-44). Pemimpin yang memberi keteladanan dan pengorbanan akan memiliki wibawa spiritual untuk memimpin orang lain.
(4) Pemimpin yang melayani berarti pemimpin yang menempatkan posisinya di bawah kontrol Kristus. Seorang pemimpin Kristen bukan menjadi orang nomor satu dalam gereja, sebab Kristus adalah Kepala Gereja. Ia memimpin namun juga dipimpin oleh Pemimpin Agung, Tuhan Yesus (Yoh. 13:13). Dengan demikian kerendahan hati dalam kepemimpinannya akan riil dalam praktiknya. Dan pemimpin yang demikian juga akan selalu (1) bersikap terbuka dikoreksi oleh siapa saja tanpa merasa tersinggung atau direndahkan, (2) dan mau untuk terus belajar akan kepemimpinan yang lebih baik. Untuk apa? Agar kepemimpin yang dilakukan sesuai dengan kehendak Tuhan dan sungguh memuliakan Tuhan, bukan sebaliknya.

Pondok Gede, 5 Februari 2010
Pdt.S.Brahmana
------------------------------------
[1] Markus 10:45; Matius 20:28
[2] http://www.scribd.com/doc/25338514/Sejarah-GBKP-Surabaya. Akses 5 Februari 2010.
[3] Matius mencatat bahwa Salome (yakni ibu Yohanes dan yakobus-lah) yang meminta kepada Yesus kedudukan itu. Dalam Markus 15:40; Matius 27:56; Yohanes 19:25, Salome adalah saaudara perempuan Maria, Ibu Yesus.
[4] William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Injil Markus. Jakart: BPK Gunung Mulia, 2003, hal. 419-420
[5] Dalam PL , piala atau cawan bisa berarti kebahagiaan (Mazmur 16:5) dan bisa juga berarti penderitaan (Mazmur 11:6). Dalam renungan kita berarti yang dimaksud penderitaan.
[6] Kata dibaptis (baptizein) disini bisa juga diartikan sebagai arti teknis yakni “masuk ke dalam air”. Bentuk past participle adalah bebaptismenos berarti membenamkan, dan biasanya dipergunakan untuk keadaan “terbenam dalam suatu pengalaman”. Metafora ini sering dipergunakan oleh pemazmur. Misalanya dalam Mazmur 42:8 demikian juga dalam Mazmur 124:4 yang mau menyatakan keadaan yang tidak menyenangkan, keadaan yang bahaya (William Barclay, Pemahaman Alkitab setiap hari Injil Markus. Jakart: BPK Gunung Mulia, 2003, hal. 422-423).
[7] Bd.ayat 33
[8] Dimana jabatan dapat diperoleh dengan nepotisme dan uang.
[9] Markus 9:33-37
[10]http://www.kilasberita.com/kb-news/kilas-indonesia/9661-sby-pemimpin-harus-melayani-bukan-dilayani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar